Perubahan Hormon Selama Masa Kebuntingan Sapi
Kebuntingan ternak adalah salah satu fase dalam siklus reproduksi ternak betina sebagai hasil dari proses fertilisasi yang melibatkan fungsi antara sel spermatozoa dengan ovum. Ovum yang terbuahi (zygote) akan berdiferensiasi menjadi embrio dan menuju uterus untuk implantasi. Di uterus inilah perkembangan embrio berdiferensiasi lagi menjadi feotus (janin) dan kemudian lahir. Lamanya fase kebuntingan pada ternak ruminansia berbeda-beda tergantung dari bangsa masing-masing.
Selama fase kebuntingan ternak, terjadi perubahan homon dalam
tubuh ternak karena adanya interaksi antara uterus dengan ovarium, khususnya dengan
corpus luteum. Perubahan hormonal yang terjadi antara lain adalah terhadap
produksi estrogen, progesteron, dan sekresi hormon-hormon gonadotrophin
seperti LH dan FSH.
Produksi
Estrogen
Pada siklus oestrus yang diikuti oleh terjadinya fertilisasi dan
menghasilkan kebuntingan ternak, terjadi perubahan terhadap produksi dan
sekresi hormon estrogen dalam tubuh ternak. Estrogen yang diketahui dihasilkan
dari folikel degraff pada siklus estrus, juga dihasilkan dari embrio yang
sedang berkembang yang ada di uterus.
Penelitian menunjukkan bahwa, selama fase kebuntingan ternak juga
dapat mengalami oestrus sebagai hasil dari siklus perkembangan folikel yang terjadi, meskipun dalam kasus
ini sangat jarang diikuti dengan ovulasi. Dengan kata lain, kemungkinan ternak
oestrus selama kebuntingan masih dapat terjadi.
Ball dan Peters (2004) dalam bukunya Reproduction in Cattle melaporkan
bahwa mereka menemukan satu kasus dimana seekor ternak yang telah diinseminasi
dengan sapi Holstein dan disusul kembali dengan diiseminasi dengan bibit sapi
potong, dapat menunjukkan tanda-tanda oestrus tiga minggu kemudian. Induk
yang diiseminasi tadi pada akhirnya melahirkan anak kembar yang masing-masing
adalah sapi Holstein dan jenis sapi potong sebagai hasil dari perlakuan double
insemination.
Selain itu, dilaporkan juga bahwa pada ternak sapi selama
kebuntingan plasma susu oestrone sulphate konsentrasinya meningkat selama
kebuntingan.
Progesteron
dan pengaruh Anti-luteolitik
Konsentrasi plasma progesteron dan progesteorn susu meningkat
dengan cepat pada beberapa hari fase awal kebuntingan yang diketahui memiliki
pola yang sama dengan peningkatan plasma progesteron yang terjadi pada fase
awal luteal pada sapi yang tidak bunting. Terdapat beberapa laporan yang
berbeda terhadap pola peningkatan plasma progesteron ini.
Hansel (1981) melaporkan bahwa terjadi perbedaan level plasma
progesteron dalam darah sejak hari ke- 10 kebuntingan, sedangkan Bulman dan
Lamming (1978) melaporkan hal yang berbeda dimana dilaporkan tidak terjadi
perbedaan level plasma progesteron sampai dengan hari ke- 18 kebuntingan.
Level Progesteron susu pada sapi perah yang bunting (garis tebal)
dan tidak bunting (garis tipis). Reference: Bulman & Lamming (1978)
Selanjutnya Mann dan Lamming (1991) melaporkan bahwa terjadi
konsistensi level plasma progesetron dalam darah selama fase kebuntingan dan
bahkan tidak terjadi penurunan level plasma progesteron selama kebuntingan.
Laporan Starbuck et al., (2001) yang meneliti 1.228 ekor sapi perah
Holstein_Friesian juga mendukung konsistensi level progesteron ini. Dilaporkan
bahwa pada sapi yang mengalami penurunan level progesteron susu sejak 5 hari
setelah diinseminasi berhubungan dengan rendahnya tingkat kebuntingan yang
mungkin terjadi. Dengan kata lain bahwa ternak sapi yang telah diinseminasi dan
terjadi penurunan progesteron susu dalam darah kemungkinan buntingnya kecil.
Hubungan level progesteron susu terhadap tingkat kebuntingan
berdasarkan penelitian Starbuck et al., (2001) disajikan pada tabel dibawah
ini.
|
Level Progesteron Susu hari ke- 5 (ng/ml) |
Rata-rata
tingkat kebuntingan (%) |
|
<1 |
<10 |
|
1
- 2 |
30 |
|
2
- 3 |
40 |
|
>3 |
50 |
Peningkatan progesteron selama kebuntingan menginisiasi
reseptor progesteron di uterus untuk mendukung perkembagnan embrio yang telah
mengalami fertilisasi. Peningkatan progesteron ini antara lain bekerja pada
endometrium uterus yang mengalami penebalan sehingga mampu menerima implantasi
zygot dalam tahap perkembagannya sampai dengan kelahiran.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa tingginya level progesteron
dalam darah selama fase kebuntingan bertujuan untuk merawat kebuntingan hingga
kelahiran. Oleh karena itu, sekresi PGF2@ oleh pembuluh vena uterus akan
menyebabkan luteolisis dan keguguran pada ternak yang sedang bunting. Namun
demikian, pada saat yang bersamaan, embrio yang sedang berkembang di uterus
sejak hari ke- 16 juga mensekresikan protein interferon dalam jumlah yang cukup
sehingga dapat mencegah peningkatan reseptor oxytocin yang kemunculannya
dipengaruhi oleh estradiol yang dihasilkan oleh folikel di ovarium.
Karena adanya hambatan protein interferon tadi, maka oxytocin
gagal menginisiasai tahap akhir sintesis PGF2@, bahkan levelnya terus menurun
mulai hari ke- 17 fase kebuntingan. Mekanisme ini dapat anda pelajari lebih
lanjut pada artikel tentang Interaksi Uterus dan Corpus Luteum.
Pada tahap ini (khususnya pada babi dan kambing) corpus luteum
terus fungsional dan memproduksi progesteron dalam jumlah yang cukup untuk
memelihara dan mempertahankan kebuntingan sampai ternak lahir. Berbeda dengan
ternak sapi dimana sumber utama progesteron tidak hanya corpus luteum melainkan
dihasilkan juga dari kelenjar adrenal dan plasenta.
Ball dan Peters (2004) melaporkan bahwa pada sapi corpus luteum
dibutuhkan sampai hari ke- 200 umur kebuntingan, jika setelah 200 hari
kebuntingan sapi diovariektomi maka kebuntingan normal tidak akan terjadi.
Inilah pentingnya kehadiran corpus luteum di ovarium selama fase kebuntingan
agar selalu dapat menghasilkan progesteron yang cukup untuk memelihara
kebuntingan.
Konsentrasi
Hormon-hormon Gonadotrophin
Selama fase kebuntingan level LH dalam tubuh ternak rendah namun tetap disekresikan
dalam jumlah kecil secara kontinyu. Sekresi LH ini berhubungan dengan
kelangsungan corpus luteum di ovarium agar tetap dapat menghasilkan
progesteron. Little et al., (1982) melaporkan bahwa frekuensi gelombang LH
menurun dari 2,6/10 jam antara hari ke 50 dan 60 kebuntingan menjadi 1,2
gelombang/10 jam antara hari ke 250 dan 260 kebuntingan.
Level FSH dalam tubuh ternak yang bunting juga rendah sebagai
akibat tingginya level progesteron yang memberikan feedback negative ke hypofisa sehingga produksi dan sekresi FSH rendah. Hal
ini kemungkinan sebagai jawaban pada sebagian besar ternak yang bunting, fase
perkembangan folikel tidak dapat mencapai ovulasi.
Disamping itu, selama fase kebuntingan plasenta juga menghasilkan hormon
protein yang dikenal sebagai plasenta laktogen yang juga memiliki krakteristik
gonadotrophin.
Refrensi : Hendri Kaprawi
Sumber:
- Ball, P.J.H., and Peters,
A.R. 2004. Reproduction in Cattle. Blackwell Publishing, Oxford, UK.
- Bulman, D.C. & Lamming,
G.E. (1978) Journal of Reproduction and Fertility, 54, 447.
- Hansel, W. (1981) Journal
of Reproduction and Fertility (Suppl. 30), 231.
- Little, D.E., Rahe, C.H.,
Fleeger, J.L. & Harms, P.G. (1982) Journal of Reproduction
and Fertility, 66, 687.
- Mann, G.E. & Lamming,
G.E. (1999) Reproduction in Domestic Animals, 34, 269–274.
- Starbuck, G.R., Darwash,
A.O., Mann, G.E. & Lamming, G.E. (2001) British Society of Animal
Science Occasional Publication, 26, 447–450.
Komentar
Posting Komentar